Untuk Mengunduh Silahkan Klik di sini.

Nama : Dimas P. Wicaksono
NRP : F14100037
Panji : 3
Laskar : 15

“lihat apa yang kudapat!” seru Siska kegirangan. Sore itu ia menemukan perhiasan kalung permata cantik di jok belakang taksi yang ditumpanginya pulang ke rumah. “pengaitnya sudah patah tapi tak sulit memperbaikinya,” pikirnya. “kebetulan, kalung ini bisa kupakai ke pesta ultahnya Tia minggu depan.”
Rupanya justru “rejeki nomplok” itu jadi bahan pertengkaran antara Siska dengan Ibunya. “Jangan kau pakai Nak, itu bukan milikmu!.” Demikian sergah sang ibu. “sebagai orang tua selama inikan ibu sudah menanamkan kejujuran dan kesederhanaan hidup padamu.” Tarik menarik antara kejujuran dan aji mumpung berkecamuk di benak gadis ini. Siska yakin kalau pun dikembalikan belum tentu jatuh ke tangan sang pemilik. Ia ingin memakai dulu gelang itu ke pesta, sebelum di kembalikan.
Sikap sang ibu tak berubah. Tak ada kata tapi, kalung itu harus dikembalikan secepatnya. Malam minggu dengan pikiran galau karna tak kesampaian memakai perhiasan bagus, Siska datang ke pesta Tia. Namun ada pemandangan yang membuatnya kaget . Ibu Tia memakai kalung persis seperti yang ia kembalikan kemarin.
“Tia, kalung yang di kenakan Mamimu bagus sekali”
“Memang. Itu barang istimewa yang tidak ada duanya. Didesain khusus atas pesanan Mami,” ujar Tia dengan bangga. “itu perhiasan yang paling disukai mami. Minggu lalu gelang itu hilang dalam taksi. Ibu sangat sedih dan putus asa. Ia sudah pasrah, tak akan bisa menemukan gelangnya kembali. Terima kasih Tuhan, ada seorang manusia berbaik hati mau mengembalikan barang itu ke perusahaan taksi yang dipakai Mami.”
Siska tersenyum tersipu. Dalam hatinya ia besyukur mau menuruti perintah ibunya. Seandainya nekat, tak terbayangkan betapa ia akan kehilangan seorang teman dekat dan dipermalukan didepan orang banyak.

Nama : Dimas P. Wicaksono
NRP : F14100037
Panji : 3
Laskar : 15

Cerita ini berawal ketika aku akan berangkat dari kota Bandar Lampung menuju kota metro dengan mengendarai mobil bersama adikku Tito. Tujuanya , menengok saudaraku yang baru saja pindah ke kota metro. Bagi Tito ini pertama kali nya ia pergi ke kota metro dan perjalanan jauh nya yang pertama. Jarak antara Bandar Lampung dan Metro bisa dibilang cukup jauh. Jika di tempuh menggunakan sepeda motor.
“mas, kita mau pergi kemana sih?”. “ke rumah Pak De di metro.”
“kakak pernah kesana”.“belum”
“bagaimana kakak tahu jalan kesana ?”.“kita kan bias melihat peta”
“kakak tahu cara membaca peta?”.“jangan khawatir kita pasti sampai ke tujuan”
Percakapan sempat terhenti sejenak lantaran tito menikmati pemandangan alam di pinggir jalan. Setengah jam berikutnya masih banyak pertanyaan yang dilontarkan tito. Namun setelah itu , suasana di mobil menjadi senyap. Aku mengira , tito sudah tidur karna kecapaian. Ternyata tidak. Dari kaca sepion di dalam mobil, tampak tito sedang melihat lihat pemandangan diluar yang mulai gelap. Mengapa bocah ini tiba-tiba membisu.
“to, masih ingat tujuan kita”. Ujar ku memecah kesunyian
“ tempat Pak De di metro”.“tahu jalan kesana”
“tidak tahu”.”kenapa tak bertanya lagi?”.
“karena kakak sedang mengemudi”
Kalimat yang meluncur dari mulut bocah ini di kemudian hari menjadi semacam kekuatan bagi ku dalam menghadapi perjalan hidup. Ya, benar, kakak sedang mengemudi. Bisa jadi kita mengetahui tujuan hidup kita tanpa tahu jalan mana yang akan kita lalui seperti tito. Kita tak tahu jalan , kita tak bisa membaca peta. Namun tito tahu persis yang terpenting – kakak sedang mengemudi – dengan demikian dirinya aman dan selamat. Karna aku akan mencukupi apa yang dibutuhkanya.
Tahukah bahwa Sang Mahakuasa sedang mengemudi hari ini? Sebagai penum-pang, apa yang kita lakukan? Barangkali, kita juga sering mengajukan beragam pertanyaan sebelumnya. Tapi dapatkah kita bersikap seperti Tito, mulai menyadari dan percaya sepenuh hati bahwa Ia sedang mengemudi.